-
maybe..
maybe, you'll be sad for a year or two. but you're gonna be happy for the rest of your life.
but anyway, good luck! see you in the next life.
-
pengamen oh pengamen
Pengamen,
orang yang dengan suka hati menghibur orang lain, tapi dibalik itu
semua mengharapkan balas jasa. Saya pernah bersama segerombol
kawan-kawan semasa SMA berdiri di tengah jalan Dago, Bandung, mencegat
mobil-mobil yang lewat, menyanyi dengan suara pas-pasan demi mengharap
apresiasi terhadap bakat yang belum diasah tersebut. Mencari dana.
Sekarang udah nggak musim ya anak sma ngamen? Huhu..
Atau.. pengalaman bertemu 4 kelompok pengamen sepanjang Laswi - Jatinangor dengan berbagai gaya, berbagai lagu.
Atau pengamen yang menghibur pengunjung warung-warung tenda di segala penjuru Bandung.
Tapi saya belum pernah bertemu orang macam ini.. ..sampai kemarin malam.
Di malam hari dalam perjalanan pulang dan sebenarnya sudah makan malam
tapi masih ada ruang kosong di lambung kiri, pisang keju coklat by
Dwilingga adalah pilihan paling pas. Maka itulah yang saya dan pacar
lakukan malam kemarin. Mampir di Dwilingga, dengan mata mengantuk dan
tubuh penat dengan pisang keju menari-nari di kepala masing-masing. Tak
lama setelah memesan, masuk empat orang laki-laki ke dalam Dwilingga,
duduk di depan kami. Seorang yang duduk tepat di depan saya memakai hot
pants, alias.. calana pondok. Perhatian saya teralih dari obrolan seputar wanita gebetan oleh dua pria di sebelah saya.
Selang beberapa menit, dua orang pengamen masuk, dan mulai menyanyi,
lagu pertama.. errgh, sering dinyanyikan pengamen tapi maaf saya nggak
tau lagu apa dan siapa yang menyanyikan. Tanpa diduga, pria berhotpants
di depan saya ini memotong "Ungu dong..". Oh.. SHIT! Dan dua pengamen
itu mulai menyanyi. Baru satu bait, si pria hotpants memotong lagi
"Jangan itu deh.. Samson aja!". Holly CRAP!! Yah yah yah.. entah
judulnya apa, yang saya inget cuma lagu itu dijadikan sontrek sebuah
sinetron.
Setelah mendapat lagu yang ia inginkan, dia.. mulai.. ikut bernyanyi.. Oh.. no..
MENYANYI!IYA!!IKUT MENYANYI!
Dengan suara meliuk-liuk seakan-akan menggunakan teknik vibrasi. Pisang
keju datang.. saya dan pacar menunduk dalam-dalam, berkonsentrasi agar
tawa tidak meledak, fokus pada makanan di depan kami, meyakinkan diri
bahwa pisang keju adalah hal yang paling kami inginkan malam itu. Kami
diam, membisu, mendengar suara si pria hotpants. Tanpa diduga, kawannya
nyeletuk "bagus juga suaranya..". Dan si pria hotpants makin
kegirangan, menyetel volume suaranya.. to the max!
Si pengamen serba salah, kikuk, kadang lirik si pengamen dan lirik di
pria hotpants nggak matching tapi tampaknya vokalis utama dadakan nggak
peduli. Dengan mata terpicing kala menjerit mungkin dikepalanya kami
yang duduk didepannya adalah juri Indonesian Idol yang sedang terpana
dengan ditemukannya bakat baru di jagad musik Indonesia. Suara si
pengamen makin lama makin menciut, tenggelam, but show goes on..
...
Lagu berakhir dengan fade-out ending yang cadas.. thank God! Senyum
mengembang di wajah si pria hotpants, uang 1.000 diberikan. Pengamen
itu keluar dengan wajah takjub atas pengalaman yang mungkin baru
pertama kali mereka alami sepanjang karir mengamen mereka.
Pisang keju dihabiskan, air teh hangat sudah berpindah ke perut kaku
saya. Kami bergegas membayar dan pergi.. keluar warung, tak tahan juga..
BHWAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKKKKKKKK.....
Seketika ngantuk dan penat itu menguap entah kemana!! Terima kasih mas hotpants.. teruslah menyanyi! YOU RAWK!!!@4^*5#&
-
beach (bitch?) life
Suatu malam di teras tempat tinggal saya.. Saya : aku pengen banget tinggal di tempat yang sepi.. di pulau kecil yang terpencil.. asik ya kayanya.. Dia : terus?
Saya : iya, pulau kecil yang ada gunung, sungai dan deket
ke laut (ya iyalah, kan pulau kecil), rumahnya kecil aja dibikin dari
kayu dan bahan yang 'alam' banget, halamannya yang luas, biar kalo
punya anak mereka bisa main sepuasnya di sana.. Dia : terus kalo mau belanja kemana?
Saya : ya tiap berapa minggu sekali gitu belanja banyak
buat makan dan lain sebagainya..mm, berarti harus punya helipad dan
helikopter buat transportasi ya.. Dia : terus? Saya : iya, harus ada kebun sama empang buat melihara ikan. hmm, tapi kerjanya gimana ya buat nyari duit..
Dia : harus punya perusahaan sendiri, jadi
tinggal ongkang kaki aja nunggu duit, orang lain suru ngurusin.. Saya : iya bener juga.. jadi tetep aja ya harus kerja dulu.. *hff* Beberapa hari lalu, dua orang kawan jauh ngobrol di tempat yang sama.. A : aku pengen tinggal di desa.. B : itu sih kalo aku udah tua, pengen di desa A : terus beli sapi.. Hmmm.. What a life.. Semakin banyak teman yang merindukan kehidupan seperti tersebut diatas, kok saya ngerasa semakin tua ya. huehueheuheueu..
Semakin besar, ternyata bukan materi yang saya cari. Ato memang mencari
materi, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup. Jadi budak.
Pertanyaan "kenapa sih harus sekolah tinggi?" "kenapa sih harus meniti
karir?" "kenapa sih harus punya target?" "kenapa sih?" "kenapa sih?". Ternyata ada titik dimana sepertinya kehidupan ala manusia purba itu lebih menyenangkan.
Makanya sejak nonton film The Beach, saya jadi terobsesi sekali. Film
itu berhasil menghipnotis saya, membawa mimpi saya terbang ke sebuah
pulau yang indah dan masih alami. Hanya memikirkan udara untuk dihirup
dan sesuatu untuk membuat perut kenyang. Bersenang-senang. Tak kenal
pagi, siang, malam. Dansa sambil mabuk. Berteriak sampai pecah gendang
telinga. Kehidupan dimana tak ada yang lain selain hasrat.
Makanya saya pengen banget pergi ke Pulau Sempu, di selatan kota
kelahiran saya, Malang. Akhir pekan kemarin seorang kawan semasa SMP
ber-backpacking ria ke Bandung bersama dua orang lagi. Kami bertemu.
Bersama tiga orang pleus satu paket semangat petualang saya menjelajah
Bandung. Kami juga sempat berpapasan dengan tiga orang bule yang lagi
backpacking-ria juga. Dan undangan itu datanglah "Sit, ke Malang ya..
nggak usah mikir gimana nanti, pikirin aja pulang perginya, pokonya di
sana kamu jadi Ratu.." (hah? saya gantiin Mulan maksudnya?).
Hmmmm.. jadi bener-bener pengen berangkat nih.. Kalo bisa sih, ke pulau
Sempu semalem (kalo betah ya dipanjangin jadi dua malem), semalem di
ranu kumbolo, ke Bromo, ke Batu, ke Coban Rondo, ke Banyuwangi dan
nyebrang ke Bali, main semalem ato dua malem di Bali, reuni geng SMP,
reuni geng SMA Tugu, ketemu guru-guru sekolah dulu, menengok sekolahku,
menengok kompleks perumahan tempatku dibesarkan. Kira-kira saya harus ngajuin cuti berapa minggu ya? *PLAKKKKKK*
-
idolaku (part 2)
Selamat
hari Senin pagi, semua.. pagi ini saya bangun dengan mata bengkak
karena kerjaannya estafet liat monitor (browsing, chatting, blogging..
oh, sungguh kegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa!), disambung
membaca Arus Balik yang baru kebaca setengahnya. Saya harus ke dokter
mata nih kayanya..
Bicara soal idola, tentu yang segelintir di postingan kemarin itu belum
semua. Saya punya buanyakkkk sekali idola. Mulai dari yang nggak masuk
akal, sampe orang-orang terdekat saya. Waktu saya bilang saya punya
idola baru, Tukul, saya serius kok.
Awalnya saya juga nggak terlalu antusias waktu ngeliat promo program
Empat Mata. Saya pikir, ini pasti pengen nyaingin Om Farhan, dan pasti
jatohnya, just another talkshow.. Saya pernah liat sesekali, tapi nggak terlalu fanatik. But then, saya baca wawancara Republika dengan Tukul di sini.
Untuk saya, mengidolakan seseorang bukan hanya mengidolakan tampang,
ato karyanya. Ada beberapa hal yang bisa bikin saya jadi fans,
karyanya, pencapaian hidupnya, dan attitude. Karena sesungguhnya,
pengertian public figure itu lebih luas dari sekedar orang yang
terkenal. Banyak kok orang yang terkenal, tapi sebenarnya nggak punya
sumbangsih apa-apa untuk sekitarnya. ME dan YZ juga terkenal tuh.
Selebritis yang bahkan bukan artist itu masa' iya dimasukin kategori
public figure? Pencapaian hidup pun sebenarnya relatif. Misalnya nih,
Baihaki Hakim saat ia diangkat menjadi Dirut Pertamina memang merupakan
seseorang dengan kapasitas tertentu dan layak untuk dikagumi, misalnya.
Tapi itu wajar, mengingat usia dan track record hidupnya. Kalo misalnya
ada seseorang di usia 30 tahun sudah jadi Dirut Pertamina (dengan
prosedur yang benar) tentu saya akan pilih orang kedua itu untuk
dijadikan idola. Pencapaian hidup itu bukan soal apa aja, tapi apa saja
di usia berapa saja. Soal attitude, pasti dong.
Nah, kembali ke laptop. Penjualan laptop meningkat gara-gara Tukul.
Hehehe.. Tadinya, -sebagai pekerja kreatif- saya pikir kemasan sebuah
acara itu punya peran penting dalam menyusun sebuah program kreatif.
Maka ketika saya liat konsep Empat Mata yang sebenernya nggak jauh sama
talkshow pada umumnya, saya belum terkesan. Host, bintang tamu
(yang ga ada istimewa-istimewanya), live band, dan gimmick-gimmick
seperlunya. Sebut aja Dorce Show, Om Farhan, Ceriwis, Back To Beck.
Tapi setelah saya baca artikel wawancara dengan Tukul, dan kontemplasi
yang tidak sebentar *hoek*, saya dapat kesimpulan, THE HOST IS A MATTER.
Pantas kalo disebut Master of Ceremony, karena menjadi host, penyiar,
pembawa acara, adalah bagaimana menjadi pakar dadakan dalam sebuah
acara. Saya sampe mikir "ohh.. pantesan..", waktu Tukul bilang dia hobi
baca. Saya percaya, orang yang suka baca adalah orang yang selalu ingin
belajar, orang yang nggak pernah puas dengan apa yang sudah dia tahu, the more you know, the more you don't know.
Kenapa Tukul bisa membuat program Empat Mata ke jajaran teratas rating
dan share televisi, tentu bukan kebetulan ato kerja sebentar ato faktor
baso tahu (hoki maksudnya). Percaya deh, jadi host yang sukses itu
bukan main-main. Nggak sekedar playing dumb and then people would stay and watch.
Bisa membuat seseorang tetep antusias menonton dan enggan mengganti
channel itu, berat. Bisa membuat orang tertawa dengan garingan kita itu
nggak mudah. Butuh skill dan attitude. Juga sedikit ilmu cenayang untuk
bisa memahami karakter dan psikologis penonton. Attitude, karena yang
ada di dalam itu pasti memancar keluar..
Kesimpulan saya, bikinlah program yang konsepnya umum. Carilah host yang tepat!
-
idolaku
1. Mochtar Lubis 
Wartawan dan penulis kenamaan Indonesia. pertama kali saya menemukan
novelnya di perpustakaan sekolah. Tua dan teronggok. Salah satu novel
kesukaan saya, Jalan Tak Ada Ujung. Penggambaran guru Isa yang
sederhana namun nasionalis cukup membakar semangat saya. Seperti Haris
Sumadiria bilang, simplex veri sigullum. Kesederhanaan adalah tanda kebenaran. Eh, ga nyambung yah..
Gaya bahasanya indah, berusaha membuktikan bahwa Bahasa itu memang
berlian dalam lumpur, harta terpendam (ada yang mau kasi saya hadiah
KBBI? saya dari dulu selalu nunggu hadiah ini di hari ulang tahun, tapi
kok nda ada yang kepikiran ngasih ya..hoho). Salah satu adegan yang
selalu saya ingat adalah ketika guru Isa berusaha bersembunyi
dirumahnya, kala itu Belanda sedang melakukan penangkapan terhadap
pribumi. Mochtar melukiskan suasana hati guru Isa dengan kalimat
"..detik merangkak berlomba dengan abad..". Sempat mengenyam
kehidupan penjara, karena tulisan-tulisannya. Dia juga sastrawan
pertama Indonesia yang mendapatkan hadiah Magsasay, untuk Jurnalisme,
Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif. Beberapa kali menjadi kandidat
nobel sastra. Saya cinta sastra! huhuuuy 2. Parlindungan Lubis 
Namanya baru beredar belakangan ini, ketika satu-satunya
autobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi NAZI diterbitkan
tahun 2006 kemarin. Siapa dia? Seorang cucu dari raja paling disegani
di Mandailing, anak seorang insinyur pertanian yang mengambil studi
kedokteran di Belanda. Bocah badung ini hidup di masa penjajahan
Belanda, menjelang perebutan kemerdekaan. Belajar di negri penjajah
bukan berarti dia tidak membela negrinya. Ia turut bertanggung jawab
atas perkumpulan Jong Batak dan sempat mengetuai Perhimpunan Indonesia
di Belanda. Tidak berjuang dengan raganya, ia berjuang dengan segenap
pikirannya. Tulisan-tulisannyalah yang membuat dia ditangkap dan
menjadi tahanan politik di kamp keji tersebut. Dia bilang, kebanyakan
orang mati di kamp itu karena mereka menyerah pada bayangan kenikmatan
hidup sebelum mereka masuk ke sana. Sederhana saja, dia hanya
melepaskan semua keindahan agar bisa bertahan hidup di kamp konsentrasi
NAZI. "Saya hidup untuk hari ini saja". Prinsip itulah yang menjadikan
dia satu-satunya orang Indonesia yang berhasil bertahan hidup sampai
kamp itu dibubarkan. Selepas dari sana, ia ditawari pekerjaan sebagai
dokter dengan segala fasilitas kelas satu di Jerman. Tapi ia menolak,
karena ia ingin pulang kenegrinya, bekerja, dan mati disini.
Autobiografinya sendiri baru terbit bertahun-tahun setelah kematiannya,
padahal kawan-kawan seangkatan dan seperjuangannya masuk dalam buku
sejarah, termasuk Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir. 3. Eko Mario Cipta Lubis.  Mmm.. kenapa ya? Hohohoho.. Karena dia selalu ingin jadi seperti leluhurnya. hakhakhakhak.. Eh, saya punya idola baru nih. Jadi begini, sejak dulu saya ga pernah baca bukunya Pramoedya Ananta Toer.
Karena ga tertarik, dan seperti tante saya bilang (Lika juga), Pram tuh
uda serupa ikon pop budaya baca. Nggak sedikit orang yang ngaku-ngaku
suka sama karyanya Pram cuma supaya keliatan pinter aja. Belum dibilang
kutu buku kalo belum baca bukunya Pram. Tapi kadang menjebak orang juga
untuk menghargai orangnya, dan bukan karyanya. Dalam bahasa kurang
ajar, ngaku ngefans padahal ngerti juga kagak. Nah, si
pacar adalah salah satu pramania. Seperti halnya dia selalu ingin ikut
baca buku-buku yang saya suka (yang tipikalnya beda banget sama genre
buku kesukaan dia yang kebanyakan sejarah), dia juga pengen saya
belajar untuk membaca bukunya Pram. Maka, berbulan-bulan yang lalu buku
"Arus Balik"
itu diberikan pada saya untuk dibaca. Tapi sama saya ga pernah
disentuh. Liat tebelnya ada uda ilfil, 760 halaman aja gitu loh.
Sekarang ini, nyelesein buku tipis aja sebulan. Sampe akhirnya, nyaris terjadi pertumpahan darah cuma karena saya tak kunjung membaca buku TEBEL
itu. Sampe akhirnya, saya ditongkrongin dan tiap kencan adalah
pemaksaan membaca buku itu. Hiks.. Dia keukeuh kalo buku ini bagus,
terutama buat saya yang menurut dia terlalu mudah percaya sama orang.
Sampe akhirnya, sejak dia berangkat ke Papua dan saya sering nganggur,
saya baca juga. Dan entahlah.. saya JATUH CINTA sama Pramoedya.
Sungguh!! Buku ini bisa bikin saya betah berjam-jam tanpa putus,
sesuatu yang sulit saya lakukan sejak bekerja. Arus balik,
adalah frase yang dipilih Pramoedya untuk menggambarkan kejatuhan
Nusantara pasca kejayaan Majapahit. Dulu, segalanya bergerak dari
Selatan ke Utara, militer, perdagangan, semua! Nusantara adalah negara
maritim terbesar di muka bumi, kala itu. Tapi lihat sekarang, Majapahit
runtuh, Nusantara bubar, semua berbalik. Liat aja, McDonald dan
Starbucks menginvasi tiap sudut kehidupan kita, eh, anda mungkin, saya
sih nggak (nggak sering-sering maksudnya, hehe). Saya langsung nelpon pacar di Papua (yang kebetulan lagi di kota, jadi bisa ditelpon) dan bilang "Nanti kita kumpulin tetralogi ya!". Dan dia pasti senang sekali sekarang.. ah, sebel! nb. ya oloh! panjang amat yak ini postingan.. btw, idola saya nambah satu lagi.. TUKUL ARWANA!!YEAH!
|